Raden Saleh Syarif Bustaman
Siapa Raden Saleh Syarif Bustaman – Raden Saleh Syarif Bustaman merupakan keturuan bangsawaan yang dilahirkan di Semarang pada bulan Mei tahun 1811. Joseph Payen, seorang pelukis asal Belgia yang tinggal di Jawa, menyaksikan talenta Raden Saleh sejak awal kali. Payen juga selanjutnya atur dengan faksi pemerintah Hindia Belanda, supaya Raden Saleh yang baru berumur 18 tahun waktu itu, memperoleh pengajaran dalam sektor pemerintah di Belanda. Setelah tiba di Belanda, Raden Saleh mengambil langsung pengajaran sambilan secara private pada 2 orang pelukis Belanda yang populer pada waktu itu. 10 tahun setelah akhiri pengajarannya, dia minta izin saat sebelum kembali lagi ke Indonesia agar bisa berkeliling-keliling Eropa.
![]()
Sesudah lawatan secara singkat di Kota Düsseldorf, Frankfurt dan Berlin dia sampai di kota Dresden, di mana dia tinggal sekian tahun lama waktunya. Dia benar-benar menyenangi saluran lukisan Jerman yang romantis dan di situ juga dia benar-benar sukses sebagai pelukis, dia pelajari Bahasa Jerman. Di situ dia mendapati rekan dan penyembahnya, seperti Friedrich Anton Serre dan Bangsawan Herzog Ernst II. von Sachsen-Coburg-Gotha.
Baca Juga : Dibalik Film Mencuri Raden Saleh
Raden Saleh tinggal di Dresden s/d tahun 1844. Di tahun 1852 dia kembali lagi ke Indonesia. Pada perjalanan Eropanya yang ke-2 di tahun 1875 sampai 1878 dia sempat tinggal di Coburg sepanjang setahun.
Kembali di Batavia, yang saat ini dikenali sebagai Jakarta, dia tidak bekerja untuk pemerintah penjajahan Belanda, tetapi jadi orang yang populer yang sudah mendapatlan banyak Bintang Penghargaan dan Pertanda Jasa dari Jerman dan dipuji oleh beberapa negara di Eropa. Dia tinggal di Puri kecilnya di Cikini, di Jakarta dan disitu dia dengan suka hati terima beberapa tamu berbahasa Jerman. Puri kecilnya tetap berdiri dan saat ini dipakai sebagai kantor dari Rumah Sakit Cikini. Raden Saleh membuat purinya dengan arsitektur mengikuti Puri Callenberg yang ada didekat Coburg, di mana dia kerap bermalam bersama Bangsawan Herzog Ernst II. von Sachsen dan keluarganya.
Di Jerman sendiri masih ada beberapa lukisan dari Raden Saleh, baik yang terpajang di museum atau yang ada di tangan pribadi-pribadi pencinta seni. Secara arsitektur masih ditinggalkan sebagai peninggalan sebuah bangunan mushola kecil, yang dibuat oleh Serre untuk temannya Raden Saleh yang direncanakan olehnya sendiri di Maxen. Masjidnya yang waktu itu dikenali sebagai “Rumah Biru”, saat ini tidak dipakai sebagai mushola dan kemungkinan sejak dahulu tak pernah dpergunakan sebagai mushola.
Beberapa kreasi yang populer dari Raden Saleh ada di Istana Negara Jakarta. Salah satunya yang terpenting ialah ” Penangkapan Pangeran Diponogoro” (1858). Raden Saleh tampilkan Pangeran Diponegoro sebagai juara secara kepribadian, dengan style yang melawan jalani penangkapannya. Ini ialah lukisan anti kolonialisme yang revolusioner, yang baru dibalikkan dari Belanda pada pihak Indonesia sesudah kemerdekaan Indonesia.
Raden Saleh ialah pelukis Jawa kekinian pertama. Dia memberi satu seni pandang dan pewarnaan yang baru dari Eropa dan memberi dampak yang besar untuk riwayat seni gambar kekinian di Jawa.
Sumber : wikipedia.org